25 Maret 2026 | Kegiatan Statistik
oleh : Anita Pella, SSi
Statistisi Ahli Muda BPS Kabupaten Timor Tengah Selatan
Sebut saja Maria. Maria tinggal di Desa Koa Kabupaten Timor
Tengah Selatan. Selain memiliki usaha tani, Maria juga mengusahakan sebuah kios
kecil. Setiap hari Maria menjual mi
instan, kopi, gula, rokok dan bensin. Barang-barang yang biasanya menjadi
kebutuhan tetangga di sekitar rumahnya. Ukuran kios Maria kecil, tak lebih dari
sepuluh meter persegi, hanya bangunan
bebak sederhana berlantai tanah. Maria
tak pernah membuat pembukuan kios, dan
usahanya tak memiliki plang. Tidak setiap hari tetangga datang ke kiosnya Maria
sehingga perputaran uangnya lambat. Maria
tak pernah berpikir untuk membuat izin usaha karena bertahan hidup saja terasa
sulit, uang yang didapat dari kios hari ini akan digunakan lagi keesokan
harinya. Kata “pengusaha” terlalu mewah untuk Maria. Yang dia tahu, inilah
satu-satunya usaha mikro yang dimilikinya. Usaha yang mampu memutar “asap
dapur” dan bisa menyekolahkan ke dua anaknya. Usaha Maria mewakili mayoritas
UMKM yang ada di Kabupaten Timor Tengah Selatan.
Maria menunjukkan
kemiskinan itu nyata dan ada di sekitar kita. Oleh karena itu, pembangunan
ekonomi harusnya tidak hanya dirasakan manfaatnya bagi segelintir orang saja.
Pembangunan ekonomi harus dirasakan
manfaatnya oleh semua pihak dan harus
obyektif. Untuk itu pembangunan harus memiliki satu pedoman (kompas )
yang pasti. Kompas itu bernama Data.
Tujuan pembangunan
nasional adalah membuka lapangan kerja sebanyak-banyaknya, meningkatkan
pertumbuhan ekonomi yang dapat dirasakan manfaatnya oleh sebagian besar masyarakat dan memberi
kesempatan kepada setiap orang untuk keluar dari jerat kemiskinan. Di sinilah
peran BPS menjadi penting. BPS bukan sekedar lembaga pencatat angka. BPS
berperan memotret kondisi sosial ekonomi yang ada di masyarakat. Angka-angka
yang dihasilkan oleh BPS mewakili suatu fenomena ekonomi yang ada di masyarakat.
Tanpa data, pembangunan ekonomi hanya berdasarkan asumsi. Tanpa data,
pembangunan ekonomi hanya menguntungkan segelintir orang. Tanpa data statistik
yang akurat, pembangunan ekonomi tidak
akan mengubah nasib Maria dan mayoritas orang yang bernasib seperti Maria.
Kabupaten Timor
Tengah Selatan adalah kabupaten termiskin kelima di Provinsi Nusa Tenggara
Timur. Provinsi Nusa Tenggara Timur juga adalah salah satu provinsi termiskin
di Indonesia. Dengan kata lain, Kabupaten Timor Tengah Selatan adalah Kabupaten
Termiskin yang ada di Provinsi Termiskin di Indonesia. Oleh karena itu momentum
Sensus Ekonomi harus dimanfaatkan daerah ini untuk memotret penyebab kemiskinan
dan bagaimana caranya bangkit dari kondisi
yang ada saat ini.
Dari Data Publikasi
Kabupaten Timor Tengah Selatan Tahun 2025,
sebenarnya penurunan persentase penduduk miskin di Kabupaten Timor Tengah Selatan cukup baik.
Data menunjukkan persentase penduduk miskin
tahun 2020 sebesar 27,49 persen, menurun menjadi 26,64 persen (2021),
menurun lagi menjadi 25,45 persen (2022), menurun lagi menjadi 25, 18 persen
(2023) dan akhirnya menurun menjadi 24,68 persen pada tahun 2024. Namun jika
dibandingkan dengan persentase penduduk miskin Indonesia yang saat ini berada
pada kisaran 8 persen maka jurang
kemiskinannya terlalu jauh. Hal ini menandakan kabupaten ini telah
bekerja keras menurunkan persentase penduduk miskin tetapi dibandingkan
kabupaten/ provinsi lain di Indonesia, Kabupaten Timor Tengah Selatan masih tertinggal
jauh.
Jika kita bedah
dari struktur lapangan usaha di Kabupaten Timor Tengah Selatan (berdasarkan
publikasi PDRB lapangan usaha Kabupaten Timor Tengah Selatan) maka sebagian
besar penduduk Kabupaten Timor Tengah Selatan bekerja pada lapangan usaha pertanian. Di mana usaha
pertanian bergantung pada curah hujan. Jika hujan terlambat atau curah hujan
rendah maka kondisi ini sangat berbahaya bagi ketahanan pangan rumah tangga.
Stok makanan berkurang atau habis, kelaparan dan tentu saja memperparah kondisi
stunting dan gizi buruk yang sudah ada di kabupaten ini.
Selain bekerja di
sektor pertanian, sebagian warga memiliki usaha non pertanian yang bersifat non
rumah tangga. Mereka mengusahakan kios sederhana, membangun usaha mebel. Ada
yang membuka bengkel. Ada pula yang bekerja sebagai tukang.
Sebut saja Jared,
dia membuka usaha mebel di halaman rumahnya di Neonmat Kecamatan Amanuban
Barat. Setiap hari dia membuat kursi, meja, lemari dan tempat tidur.
Peralatannya terbatas dan jangkauan penjualannya hanya sekitar wilayah Amanuban Barat dan Kota Soe. Itu pun
tidak setiap bulan ada pesanan. Dia telah bekerja keras tapi penghasilannya tak
banyak berubah dari tahun ke tahun.
Apabila ada
goncangan ekonomi maka orang-orang seperti Jared yang merasakan dampaknya terlebih dahulu. Mereka harus menekan
pengeluaran mereka, mengurangi porsi makan, menunda keinginan untuk melanjutkan
sekolah, dan mengambil pinjaman kepada rentenir. Bahkan yang paling ekstrim
adalah menjual tanah, sawah atau kebun milik mereka.
Inilah wajah
kemiskinan yang sesungguhnya. Mereka menjadi miskin bukan karena mereka malas
atau tidak berupaya untuk maju. Tetapi karena “pintu peluangnya terkunci” oleh
kondisi sosial ekonomi di masyarakat.
Data BPS menunjukkan rata-rata lama sekolah Kabupaten Timor Tengah
Selatan berkisar 7,21 tahun. Dengan kata lain, secara rata-rata penduduk berusia 25 tahun ke atas diwilayah
kabupaten Timor Tengah Selatan hanya
mengenyam pendidikan formal sampai dengan kelas 1 SMP. Jika mereka membangun usaha maka usahanya cenderung
berskala mikro dan informal. Mereka cenderung akan membangun kios sederhana, menjadi pedagang kaki lima, membuat mebel.
Usaha ini cenderung bersifat “bertahan hidup” daripada menghasilkan profit yang
stabil. Minimnya pendidikan formal sering kali membuat mereka kesulitan membuat
pembukuan, memisahkan uang pribadi dan usaha serta perencanaan usaha jangka
panjang. Karena usaha sering kali tidak memiliki
jaminan (aset yang memiliki dokumen
resmi), dan tidak memiliki catatan
keuangan yang baik maka mereka sulit mendapat pinjaman dari
bank. Mereka cenderung terjebak pinjaman rentenir dengan bunga yang tinggi.
Strategi pemasaran pun hanya mengandalkan lokasi dan hubungan personal. Tidak dapat
beradaptasi dengan teknologi sehingga dapat memasarkan hasil usahanya melalui marketplace
Sektor Pertanian
adalah sektor yang menyerap tenaga kerja paling banyak tetapi juga
menyumbangkan kemiskinan
Distribusi persentase lapangan usaha terhadap PDRB atas
dasar harga berlaku menunjukkan struktur ekonomi suatu wilayah. Struktur
ekonomi Kabupaten Timor Tengah Selatan tahun 2024 didominasi oleh empat lapangan usaha yakni sektor pertanian,
jasa pemerintahan, konstruksi. dan perdagangan. Distribusi sektor pertanian
terhadap PDRB sebesar 46 persen. Jasa
pemerintahan memberikan kontribusi sebesar 13 persen terhadap PDRB. Kontribusi
konstruksi dan perdagangan masing-masing berkisar 8 persen dan 7 persen terhadap
PDRB. Dengan kata lain lapangan usaha pertanian adalah penyangga utama
Kabupaten Timor Tengah Selatan.
Mayoritas penduduk
bekerja di sektor pertanian yang sangat bergantung pada alam. Secara
topografis, wilayah TTS memiliki curah hujan yang rendah, sehingga lahan pertanian
sering kali kurang produktif untuk mendukung pendapatan yang stabil. Struktur
ekonomi yang masih bertopang pada sektor pertanian subsisten membuat masyarakat sulit keluar
dari kemiskinan. Tingkat pendidikan dan keterampilan yang masih rendah
membatasi akses masyarakat untuk bekerja pada lapangan kerja yang lebih baik
dengan penghasilan yang memadai.
Di tengah tantangan
tersebut, sensus ekonomi 2016 hadir sebagai upaya besar untuk memotret realitas
ekonomi masyarakat secara menyeluruh. Sensus ini tidak hanya mendata usaha
besar, tetapi juga kios kecil milik Maria,
usaha mebel di halaman rumah dan
usaha-usaha kecil lainya.
Hasil SE2016
menunjukkan bahwa lebih dari 98 persen usaha non-pertanian di Indonesia
merupakan usaha mikro dan kecil. Di TTS, sendiri proporsi ini terasa lebih nyata. Hal ini
menunjuk denyut ekonomi Kabupaten Timor
Tengah Selatan digerakkan oleh usaha-usaha mikro. Sensus ekonomi 2016 menjadi momentum penting cara negara
mendengar suara pelaku usaha kecil.
Data SE 2016 memberi gambaran yang obyektif
tentang ekonomi lokal. DI wilayah mana usaha tertentu terkonsentrasi, sektor apa yang paling banyak
menyerap tenaga kerja, dan wilayah mana yang paling rentan terhadap goncangan ekonomi.
Ketika data SE 2016
mulai masuk ke dalam dokumen perencanaan seperti RPJMD dan RKPD, kebijakan
tidak lagi dibuat secara seragam. Program pelatihan, pembiayaan, dan
pendampingan disesuaikan dengan kebutuhan wilayah.
Penguatan UMKM harus menjadi prioritas utama. Bantuan modal
melalui kredit lunak pinjaman, pelatihan kewirausahaan dan pendampingan yang konsisten terhadap
usaha mikro dan bantuan legalitas usaha
adalah sesuatu yang mutlak dilakukan.
Membangun usaha
rumah tangga adalah kunci pengentasan
kemiskinan
Ketika usaha rumah
tangga tambah maju maka pendapatan rumah tangga meningkat. Ketika pendapatan rumah tangga
tambah besar maka daya beli ekonomi
rumah membaik. Ketika daya beli menjadi
lebih baik maka kualitas hidup rumah tangga tersebut semakin baik. Anak-anak
bisa menempuh pendidikan yang lebih tinggi, tercukupinya sandang, pangan dan
papan rumah tangga. Yang terpenting risiko jatuh miskin kembali berkurang.
Tren penurunan
kemiskinan di Kabupaten TTS sejak tahun 2020 tidak terjadi tanpa sebab. Tren
ini adalah hasil dari intervensi
pemerintah yang konsisten, berbasis data, dan menyentuh pelaku usaha
mikro.
Sensus ekonomi 2026
menjadi momentum penting. Bukan hanya untuk memperbarui data, tetapi untuk
memotret perubahan struktur ekonom daerah
misalnya adanya kehadiran usaha
online di wilayah ini.
Pemerintah daerah
dapat memanfaatkan hasil sensus secara optimal, masyarakat perlu diyakinkan
bahwa sensus ekonomi bukan tentang pajak ataupun tentang bantuan, melainkan kompas
pembangunan. Teknologi digital perlu dimanfaatkan agar data lebih cepat
dianalisis dan ditindaklanjuti.
Tantangan geografis dan banyaknya proporsi usaha mikro memang nyata. Namun justru di situlah nilai sejati dari sensus ekonomi. Sensus yang menjangkau usaha yang sering tak terjangkau.
Kemiskinan di Kabupaten
Timor Tengah Selatan masih tinggi. Jalan
menuju kesejahteraan masih jauh . Tetapi tren penurunan angka kemiskinan
memberi satu harapan baru. Kesejahteraan itu bisa tercapai, jika kebijakan
dibangun berdasarkan data yang jujur
Sensus ekonomi
2016 memberi fondasi dalam memahami
perekonomian daerah apa adanya. Dengan persiapan matang menuju sensus ekonomi 2026,
data tidak lagi menjadi tumpukan angka, tetapi peta jalan menuju perubahan yang
lebih baik.

Badan Pusat Statistik
Badan Pusat Statistik Kabupaten Timor Tengah Selatan (Statistics of Timor Tengah Selatan Regency)Jl. Proklamasi No. 6
Soe - 85511
TTS
NTT
Telp (0388) 21051
Mailbox : [email protected]
Hak Cipta © 2023 Badan Pusat Statistik